KETIKA IDENTITAS MULAI HILANG

Muhammad Imam Subkhi

Coretan ini kugores dengan sebuah kenangan. Yah…saat itu tanggal 2 Juli 2008, aku liputan sebuah event yang diselenggarakan oleh Dinas P dan K Jatim. Event tersebut adalah Festival Dalang Bocah Tingkat Jawa Timur. Aku terkesima dengan salah satu peserta dari Kabupaten Mojokerto yang masih berusia 11 tahun bernama Sehono Wahyu Laksito. Dia bersama kelompoknya aku rasa usianya tak jauh berbeda. Sehono dan kawan-kawan begitu bersemangat mengikuti perlombaan dalang ini. Aku jadi bertanya kepada diriku sendiri…”kok masih ada ya anak kecil yang suka wayang?”. “ya.. memang harus ada!” aku jawab sendiri pertanyaanku. Disaat banyak anak kecil sibuk dengan permainan playstation, aku senang ternyata masih ada sebagian bocah seperti sehono yang bermain dengan wayang. Paling tidak, jika sehono dan mereka yang mau melestarikan kesenian wayang, maka kesenian dari budaya jawa yang luhur ini akan tetap ada hingga nanti.
Namun harapan ini bisa saja akan terputus ditengah jalan jika tidak ada pembinaan yang benar-benar serius. Bisa saja ketika sehono atau dalang bocah yang lain menginjak masa remaja, mereka beralih obsesi. Memang kita tak bisa memaksa setiap orang untuk menjadi apa, tapi hendaknya event-event perlombaan ketrampilan yang berbasis pada kesenian tradisional tetap dipertahankan.
Aku sekarang bertanya, seberapa banyak anak kecil yang bermain jumpritan atau petak umpet di malam hari? Seberapa banyak anak kecil yang bermain membuat mainan dari tanah liat? Seberapa banyak anak kecil yang bermain di sawah membuat gubug? Seberapa banyak anak kecil yang bermain di sawah dan melakukan kenakalan seperti mencuri buahg ketimun di sawah (bukan maksud mengajak berbuat jahat, tapi kenyatan kehidupan anak kecil yang sering ada pada jaman dulu)? Dan seberapa banyak anak kecil yang bermain permainan lama?
Ah….ternyata bocah-bocah mulai meninggalkan identitas permainan kita dulu…………..
Ternyata permainan terbaru yang bisa kita beli dan berbentuk piringan lebih menarik….
Begitu menurut anak kota….anak desa…..anak kampung…..
Lalu….jika bocah-bocah bermain dengan alat-alat imajiner itu….lalu kemana mainan kita dulu?
Apa aku harus menyalahkan bocah-bocah?………ah…..tidak sepenuhnya mereka salah.
Apakah aku harus menyalahkan?………………..TIDAK………..TIDAK…… aku tak perlu menyalahkan siapapun……….toh aku juga suka ini semua….lalu…..siapa yang salah?????

Satu Tanggapan

  1. mlaku2 bengi… nemu omahe konco hehehe…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.