tulisan ini di ambil dari http://desantara.org
SEKSUALITAS PEREMPUAN SENI
Sebut saja Undur-undur, seorang ronggeng Jaipong dari Karawang yang saat ini sedang menikmati hasil jerih payahnya. Hidup sejahtera dengan memiliki fasilitas rumah mewah, mobil, telepon, dan alat-alat elektronik kebutuhan rumah tangga, dan segala fasilitas lainnya. Sedangkan seorang sinden-penari dari Subang, sebut saja Rifka, hidup tenang dengan berbagai fasilitas yang kurang lebih sama dengan ditambah dengan memiliki kebun mangga. Ia juga sudah menunaikan ibadah haji dan bahkan telah membangun mushola di kampungnya. Dan Temu gandrung Banyuwangi, walaupun menjanda selama 20 thn, ia sudah memiliki 1 hektar sawah, 3 pasang kerbau, sementara di depan rumahnya dibuat warung untuk berjualan kelontong. Hasil jerih payah tersebut tak mudah diraupnya. Mereka sadar bahwa profesinya sebagai sinden-penari dipandang sebagai perempuan yang mengumbar nafsu syahwat, erotis, dan seks. Penuh dengan nuansa pornografi yang harus dijauhi. Tariannya sarat sensualitas dan mudah membangkitkan nafsu birahi, bak arena pesta para laki-laki. Dan mereka juga sadar bahwa, ?sayalah yang berhak mengatur tubuh saya sendiri,? kata Rifka dengan tersenyum.
Sepenggal cerita dari tiga perempuan seni tradisi meluncur dengan sedikit kebanggaan dan kegembiraan. Sesekali bibir Undur-undur merekah saat bercerita tentang lika-liku kehidupannya. Perjalanan panjang dilalui untuk memperoleh materi tidaklah mudah. Perlu waktu dan kesabaran, berangkat dari nol Undur-undur kini menikmati kemewahan dan kejayaan panggungnya. Begitulah. Siang itu, sambil sesekali membetulkan rambutnya, ia berucap, ?panggung pertunjukan bagi saya adalah tempat penghidupan saya.? Saya sadar kelak ketika saya sudah tua pasti akan berakhir dan tak ada lagi tempat merayakan kebolehan saya menari. Apa yang dirasakan Undur-undur juga dialami para perempuan seni lainnya. Ia juga mengakui bahwa banyak laki-laki sangat mengaguminya sebaliknya ada juga yang mencampakkan.
Jaipong, Tayub, dan Gandrung: Ekspresi dan Image Perilaku Seks
Hampir dipastikan tidak ada seni pertunjukan rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Sunda, khususnya Karawang dan sekitarnya selain jaipong yang oleh Dinas Kebudayaan setempat disebut keliningan. Keliningan adalah kesenian rakyat Karawang yang dominan nyanyian (kawih), musik, dan tari apalagi tari erotis. Kawih yang ditembangkan bersumber dari ketuk tilu dan kidungan klasik, dan sekitar tahun 1975 berubah menjadi kesenian jaipong. Namun, dalam data kesenian daerah Karawang tidak tercantum nama jaipong, yang tertera justru keliningan. Padahal jaipong lebih dikenal dan diakui dibandingkan keliningan. Konon menurut cerita, dalam pertunjukan keliningan ada lagu Ucing-ucungan, Kentul Liwat dengan tepak ABC yang dipadu dengan tepak gendang sehingga menimbulkan bunyi Jai-pong-Jai-pong, Blaktuk-blaktuk yang dipopulerkan oleh Trio pelawak Topeng Banjet yang didukung oleh Askin-Bi Ijem-Ali Saban melalui bodoran sampai rekaman. Kepopuleran dan penggalan kata ?maju-maju-maju, mundur-mundur-mundur, kiser-kiser-kiser, jaipong-jaipong, blatuk-blatuk?. Berawal dari penggalan kata tersebut kata Jaipong menyebar dan melekat di masyarakat Karawang. Sedangkan kliningan dikonstruksi sebagai kesenian rakyat adiluhung yang mengandung nilai estetik dan etika. Sebaliknya, jaipong mengadopsi keliningan, di samping ketuk tilu, topeng banjet, dengan kawih dan musik yang gegap gempita.
Sensualitas tarian Jaipong yang menonjolkan liukan tubuh, seperti halnya gerak tarian yang atraktif dengan menghadapkan bagian pantat ke arah penonton, dengan memutar pinggulnya ke kiri dan ke kanan, ke muka dan ke belakang dengan dada digoyangkan melalui 3G (gitek, goyang, dan geol) yang mengundang pro-kontra tidak membuat surut pelaku jaipong, bahkan penari semakin menggerakkan pinggul dan dadanya dengan iringan tepak kendang ?Goyang Karawang? yang hingga kini istilah tersebut menjadi trade mark jaipong Karawang. Kesan tersebut justru sekaligus dapat mempopulerkan nama grup jaipong seperti sebutan ?Undur-undur? dengan gerakan berputar bak spiral, ?Imas Dongkrak? dengan gerakan dongkrak pinggul, dan ?Lilis Gebot? dengan ciri khas hentakan payudara.
Pementasan jaipong berlangsung pukul 20.00 dan berakhir menjelang subuh, namun jaipong juga dipentaskan pada siang hari dengan alur pertunjukan meliputi tiga bagian pokok: pembukaan (tatalu), kidungan (nembang), dan penyajian kawih-tari. Dalam jaipongan bunyi kendang blak-ting-pong-blak-ting-pong-blak-ting-pong membentuk pola irama 16 atau 32 ketukan ditandai dengan pemukulan satu gong besar dan pada saat yang bersamaan dibunyikan juga gong yang lebih kecil (kempul) mendominasi hampir semua kawih yang ditembangkan. Iringan gamelan tersebut dengan tempo ajeg semakin lama semakin cepat bertaut dengan sisipan alok.1 Seperti yang dilakukan oleh Bang Namin, sebutan untuk pemimpin grup Rama Medal Mandiri Jaya, alok sudah menyatu dalam iringan tepak kendangnya. Seperti tuturan Urvashi Buthalia, salah satu peserta workshop internasional yang diselenggarakan oleh Kajian Perempuan Desantara, 22-24 Juli 2003 di Karawang, mengomentari bahwa atraktif tarian jaipong hampir memiliki kesamaan dengan tarian yang ada di India dan hampir tidak dilihatnya unsur-unsur erotis yang membangkitkan daya tarik seks. Ungkapan Urvashi juga diiyakan oleh beberapa peserta lainnya, bahkan Hairus Salim peserta dari Yogyakarta menanyakan pada Srinth!l, ?gerakan yang mana yang dapat membangkitkan gairah seksual laki-laki?? katanya sambil terus menatap penari jaipong.
Keterlibatan penonton cukup mempengaruhi jalannya pertunjukan, terutama bajidor2 termasuk kelompok yang sangat menentukan sukses tidaknya pertunjukan. Betapa sepi jaipong tanpa kehadiran bajidor. Gegap gempita panggung mendadak redup tanpa gairah. Apa arti sebuah pertunjukan tanpa kehadiran penonton. Apalah arti jaipong tanpa sosok bajidor. Terasa jaipong kehilangan roh siklus kehidupannya.
Patepang Sono, sebuah kawih pengiring ?ibing pola? dilantunkan sebagai ungkapan perkenalan diri kepada penonton. Alunan tepak kendang menghentak, serasi dengan goyang pinggul, pinggang, dan dada penari, menyatu, membius, dan membangkitkan emosi penonton, untuk hadir serempak dan berinteraksi. Seluruh perangkat pertunjukan seolah-olah menjelma menjadi aktor yang sadar diri, mengajak dan ?menyihir? penonton, untuk menyatu dalam tontonan sehingga mengiaskan terbangunnya sebuah komuni.
Bangbung Hideung, Kembang Boled, Eling-eling, Papacangan, Ronggeng Angle?, Awet Rajeh, Randa Tilu Kali, Nyi Ronggeng, dan Akang termasuk kategori kawih yang digemari penonton; hampir selalu muncul di setiap pementasan. Sulit menentukan secara pasti, berapa jumlah kawih yang dinyanyikan dalam satu pertunjukan, biasanya berkisar antara 8-12 kawih yang terdiri atas: 1 kawih wajib dan sisanya bersifat pilihan. Hampir seluruh kawih pilihan didominasi kawih baru dibandingkan kawih klasik. Selain jarang ditembangkan, kawih klasik kurang diminati, khususnya oleh para bajidor. Malahan, terkadang sinden tidak mampu menolak keinginan penonton untuk menyanyikan lagu-lagu ?dutpong? (dangdut-jaipong). Hal ini memang tidak dapat dihindari oleh para sinden, tetapi hendaknya perlu ditekankan pada keseimbangan nilai uang dan nilai estetis, agar tidak mengarah pada sekularisasi, vulgarisasi, dan imitasi yang berlebihan. Ada peristiwa menarik di sini,
Panggung itu, dikelilingi penonton dari beragam usia, mulai anak-anak sampai orang tua, bahkan ada seorang ibu yang menonton sambil menyusui bayinya berdiri di samping kursi terdepan yang diduduki para bajidor dan rombongannya.Di meja depan tersedia makanan kecil dan beberapa sisir pisang. Ketika memasuki kawih pilihan (kawih ke-3) ?oteng-oteng? (calo jaipong) mendekati bajidor yang dipanggil namanya dengan mengalungkan selendang kuning di lehernya. Bajidor itu menari secara tunggal. Di sini peran penabuh kendang sangat signifikan (penabuh kendang yang piawai, apabila ia mampu mengikuti gerak tari bajidornya, jika tidak bajidor akan merasa keki/malu karena ditertawakan penonton dan seketika bisa meninggal-kan arena pertunjukan).Terkadang terdengar penonton tertawa terpingkal-pingkal, melihat gerakan ?lucu? bajidor yang tidak begitu pandai menari. Menjelang tengah malam, botol-botol minuman (bir) mulai berserakan, kawih dangdut-jaipong mulai ditembangkan. Hentakan kendang dan goyang pinggul penari di atas panggung diikuti oleh para bajidor dan simpatisan jaipong dengan menggoyang-goyangkan kepala dan pinggul di lahan bawah panggung, sambil terus-menerus mengeluarkan lembar demi lembar uang dan berpindah ke tangan sinden (juru kawih), penari, dan nayaga. Menjelang subuh pertunjukan berakhir, anak-anak pun tak juga terlelap.
Penari-penyanyi jaipong, tayub, maupun gandrung tidak menutup kemungkinan berupaya memperlihatkan ketertarikan kepada pihak lain. Dengan kostum gemerlapan, sinyal seksual dapat ditampilkan dengan menonjolkan bagian tubuh mulai dari dada, pantat, pinggul, leher, dan lirikan mata yang semuanya memiliki potensi membangkitkan rangsangan lawan jenis. Tak hanya gerakan sensual, rupa, swara, wiraga, dan trapsila seyogyanya dimiliki juga oleh seorang ronggeng. Ungkapan seks menunjukkan manifestasi afinitas afektif antara seniman dengan penontonnya. Egolan pantat mengundang tangan-tangan laki-laki tidak hanya sekedar memegang pantat penari tetapi juga mengusap-usapnya. Jika para penonton laki-laki baik pengibing ataupun bajidor berhak memandang dan menikmati setiap ronggeng bahkan ?colekan payudara? sekalipun, sebaliknya ronggeng juga memiliki hak yang sama untuk membuat para bajidor senantiasa ketagihan dan terperdaya untuk menghamburkan uang sebanyak-banyaknya, tergantung bagaimana negosiasi di atas panggung.
Sesungguhnya yang terjadi adalah sebuah ?pertarungan? antara ronggeng dengan para laki-laki di pihak lain. Seperti lukisan pertunjukan jaipong (Namin Grup) di sebuah desa di Karawang Juli 2003. Saat tari pembuka mulai berlangsung, dan kawih Kembang Gadung telah dilantunkan, kira-kira sepuluh menit kemudian sang juru kawih memanggil-mangil beberapa nama yang diselipkan dikawihnya. Tanpa beban sedikit pun penonton yang namanya dipanggil maju, berjalan menuju panggung sambil berbisik kepada juru kawih lalu ke arah pengendang dan ibingan pun dimulai, dan beberapa saat kemudian disusul empat sampai delapan pengibing lainnya.
Memanggil nama orang-orang tertentu adalah cara yang paling lugas menarik penyawer. Para bajidor yang dipanggil maju sambil menyawer mulai dari juru kawih (sinden) dan penari saling bergantian satu-persatu. Terlihat wajah-wajah penari-penyanyi semakin sumringah, begitu juga wajah pengendang. Semakin erotis seorang ronggeng memutar, menggoyang pantat, pinggul, menggerakkan, dan mematukkan dada semakin banyak pula kemungkinan memperoleh saweran. Di antara para bajidor pun juga saling memperlihatkan kekuasaan dan kehebatannya dalam hal menyawer. Sulit untuk melukiskan sebuah perilaku yang dengan mudah menghambur-hamburkan uang hanya untuk sebuah prestisius. Sisi yang lain, kontestasi antar bajidor dijadikan sebagai ajang bisnis dan ajang gengsi. Sekitar bulan Mei 2002, kota Karawang dihebohkan dengan pementasan bersama sebanyak 16 grup Jaipong di hajatan seorang bajidor. Hal serupa juga berlaku dalam pertunjukan gandrung dan tayub, walau tidak sedramatis jaipong.
Dalam konteks pertunjukan, seorang bajidor selaku penonton aktif dapat dilihat dalam beberapa sudut pandang; pertama, bajidor termasuk golongan penonton kalangan kelas menengah yang secara ekonomis memiliki kemampuan lebih untuk nyawer (sawer). Gaya saweran bajidor yang sering diperlihatkan antara lain: (1) langsung memberikan lembaran uang Rp1000,- — Rp 50.000,- an sambil memegang tangan sinden (juru kawih dan juru tari), mengoyang-goyangkan mengikuti irama kawih yang ditembangkan; (2) menyelipkan di sekeliling ikat pinggang sinden; (3) menyebarkan uang di atas panggung; (4) mempersilakan sinden dan nayaga berdiri, berbaris, dan antri menerima saweran, dan (5) menyelipkan di dada, namun kasus ini jarang terjadi, terkecuali terdapat hubungan khusus antara bajidor dan sinden.
?Meskipun saweran itu sudah mentradisi dalam setiap pertunjukan tari, tapi saya sebagai penari tidak semudah itu menerima setiap saweran yang diberikan dengan tidak sopan,? ujar Wangi Indriya, penari topeng asal Cirebon. Wangi memang boleh memiliki prinsip demikian, keengganan untuk tidak menerima saweran yang biasa dilakukan melalui mulut atau dimasukkan ke dalam kutang. Wangi merasa bahwa dirinya berhak menghormati diri (tubuh)nya, meskipun tidak jarang keenggananya harus dibayar dengan berkurangnya hasil perolehan uang setiap kali manggung. Sikap Wangi ini hanya sebatas sikap yang tidak pernah ia lontarkan kepada penari yang lain. Ia cukup toleran dan memahami ketika beberapa rekannya yang juga sesama penari topeng menerima saweran melalui mulut atau bahkan dimasukkan ke dalam kutangnya. ?Sebisa mungkin saya akan menerima dengan wajar. Tetapi, saya tidak mau usil karena mereka (penari-red.) sendiri terkadang menghendaki itu,? lanjutnya kemudian.
Seorang sinden akan menyebutkan nama bajidor secara terus-menerus apabila si bajidor yang dipanggil tidak mau tampil ke arena. Situasi ini sangat memalukan bagi bajidor yang bersangkutan; kedua, julukan ?bos? bagi bajidor menempatkan diri sebagai orang yang terpandang di mata sinden. Hubungan antara bajidor dan sinden bukan lagi masalah nilai seni melainkan berorientasi pada aspek pragmatis belaka, simbol prestisius bajidor. Sinden tidak lagi mempertimbangkan aturan main dan estetika pergelaran tetapi lebih bergantung pada uluran tangan-tangan bajidor yang nyawer sampai ratusan ribu rupiah. Seorang mantan bajidor, sebut saja Didin (28 thn.) anak jagal kerbau di pasar Cibitung menghabiskan uangnya antara Rp 500.000,- — Rp 2.000.000,- semalam dalam setiap arena pentas jaipong. Oleh karena itu, tidak jarang isi kawih menjadi panjang hanya untuk menyebutkan berulang kali nama-nama kelompok bajidor yang nyawer; ketiga, menguatnya sentuhan ?kekuasaan bajidor?, membuat jaipong bagai tirai arena ?transaksi fisik?usai panggung antara sinden dan bajidor.
Implikasinya, tidak jarang terjadi kasus perkawinan dan perceraian antara penyanyi-penari jaipong dengan bajidor. Perkawinan antara keduanya umumnya tidak berlangsung lama, sekitar 2-5 tahun, setelah itu bercerai, sangat jarang perkawinan antar keduanya berlangsung puluhan tahun. Bahkan lebih parah lagi kekerasan yang menimpa perempuan jaipong terlihat dengan banyaknya kasus penipuan. Si bajidor jatuh cinta pada sinden saat nonton pertunjukan. Kemudian mengawininya menjadi istri kedua, ketiga, dan keempat (bahkan lebih) tanpa memberitahu sebelumnya kalau ia sudah beristri. Untuk mengawininya si ?bos bajidor? minimal membuatkan rumah yang sederhana berikut perabotnya. Sebaliknya, dalam kasus penipuan yang lain si ?bos bajidor? membeli sebagian bahan bangunan (semen, batu, dan pasir) untuk calon istrinya, setelah menikah, beberapa hari kemudian hilang tak berbekas. Dari beberapa kasus yang ada, melahirkan ungkapan sinisme terhadap perilaku bajidor sebagai barisan jiwa dorhaka (bajidor).
Gandrung dengan kecanggihannya memainkan olah tubuh memanfaatkan emosi pemaju dan atau penonton untuk tidak segan-segan merogoh sakunya menghamburkan uang agar bisa menari bersama gandrung, wajar jika gandrung patut dijuluki sebagai sekar dalu (penguasa malam) (Srinth!l-3). Sebaliknya, pemaju pun bisa melakukan hal yang sama. Bermodalkan uang yang cukup banyak, mampu memperlihatkan kekuasaannya dan bermain bersama gandrung sesuai dengan selera yang ia miliki. Asumsi tentang eksploitasi tidak bisa lagi dilekatkan pada satu pihak, melainkan dua pihak yang saling berebut untuk mendapatkan tujuan masing-masing.
Sebaliknya, Wari, ledhek tayub dari Pati, menceritakan bahwa ketika dirinya disentuh oleh pengibing, dia tidak merasa sebagai pihak yang terlecehkan; yang terpenting bagaimana menjaga diri dengan baik. Hampir setiap ledhek selalu berusaha menghindar sedini mungkin kekerasan panggung dengan melakukan penolakan-penolakan secara halus. Seringkali ledhek melambaikan tangan atau menarik sampur ketika pengibing mulai berlaku kurang senonoh. Menurutnya, ?kalau tidak siap dipegang atau disentuh, ya jangan jadi ledhek, kecuali kalau sudah di luar panggung, itu sudah resiko masing-masing,? lanjutnya. Resiko pekerjaannya sudah menjadi bagian dari profesionalitasnya (Srinth!l-2).
Hal senada juga diutarakan oleh Indra (22 thn), penari tayub yang juga seorang mahasiswi Fakultas Hukum di sebuah Universitas Swasta di Tuban, dalam acara Dialog Budaya, ?Perjalanan Tayub? kerja sama DESANTARA dengan For-Kaset (Tuban), 10 Agustus 2003, ?terkadang saya mempertanyakan apa bedanya pekerjaan saya sebagai penari tayub, dengan profesi lainnya. Saya bekerja ini untuk menghidupi diri, kuliah, dan keluarga. Yang penting bagi saya apa yang saya lakukan tidak mengganggu kepentingan orang lain. Di mana letak kesalahan pekerjaan saya sehingga distereotif amoral?? katanya kepada Dr. Ayu Sutarto, salah satu pembicara dari Universitas Jember. Menurut pengamatan Srinth!l, sangat terasa bahwa forum dialog yang dimotori oleh Wakil Bupati Tuban sekaligus pengamat seni, Soenoto, sebagai salah satu sarana untuk mengeluarkan uneg-uneg bagi perempuan tayub yang merasa dipinggirkan oleh pemerintah setempat. Sambil terus menari dan menari, para perempuan seni tradisi dengan tenang ingin menjawab berbagai komentar miring dan fatwa; ?biar saja, lenggak-lenggok tubuh ini menjadi bagian dari hidup saya dan sayalah yang berhak mengontrolnya,?sambung Indra menambahkan.
Seperti halnya pernyataan Tohari bahwa sudah menjadi pengetahuan umum kalau dalam ronggeng ada acara bukak klambu. Masyarakat tahu kalau ronggeng bisa dibawa kemana-mana. Ya, itu sah-sah saja. Aspek-aspek seksualitas hadir sebagai representasi dari bagian kehidupan manusia. Kalau kepentingan-kepentingan seks menjadi tujuan utama dalam setiap pertunjukannya itu namanya konyol. Hal itu akan mematikan seni tayub itu sendiri seperti diungkapkan dalam wawancara, ?Kita ini Homo Ludens yang Gampang Terangsang?? dalam Patologi Seks SeniTradisi, Kolong Budaya, 2001.
Memang harus diakui banyak kalangan orang tua yang tidak mampu menyekolahlan anaknya di pendidikan formal, banyak anak-anak perempuan dianjurkankan untuk mengikuti Sanggar Seni baik, jaipong, tayub, maupun gandrung. Di Karawang untuk menjadi sinden dan penari cukup dengan membayar sekitar Rp 500 ribu dijamin sampai bisa. Selain tidak membutuhkan banyak syarat, bekerja sebagai sinden juga menghasilkan banyak uang. Penghasilan rata-rata untuk penari jaipong sekitar Rp 100 ribu-Rp 200 ribu belum termasuk bayaran dari bajidor. Sedangkan untuk sinden bisa mencapai Rp 750 ribu-Rp 1,5 juta belum termasuk fee dari bajidor. Hal serupa juga terjadi pada penari gandrung Banyuwangi dan tayub Pati (Jawa Tengah) dan tayub Tuban (Jawa Timur) kendati tak sebanyak jaipong.
Entin Trisnawati (25 thn.) lulusan SLTPN Lemahabang 1996, ia mengawali kariernya sebagai penari sejak 1996. Dengan berbekal ijazah SLTP yang mungkin tidak diperlukan, Entin belajar tari jaipong di sanggar Namin, pimpinan jaipongan Namin grup, selama satu bulan. Sampai saat ini, dari hasil jerih payahnya, ia mampu memiliki tabungan mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan, pada Maret 1998 lalu, ia membiayai pernikahan kakaknya sebesar Rp 6 juta. Kepiawaian Entin juga dibuktikan dengan beberapa piagam penghargaan yang diraihnya, sebagai juara favorit lomba tari jaipong dalam rangka Hari Listrik Nasional ke-52, di Karawang 1997, penghargaan atas partisipasinya dalam pergelaran Seni Ibing-Juru Kendang-Juru Sekar Wanda Karawang, Desember 1997, dan Anugerah Seni Tradisional menyambut tahun Seni Budaya RI, Taman Impian Jaya Ancol, 2 Pebruari 1998.
(Lengkapnya baca di Jurnal Srinth!l edisi 6: Politik Tubuh: Seksualitas Perempuan Seni)
Filed under: 1 | 1 Komentar »